Senin, 11 Februari 2013

Pertumbuhan Perbankan Syariah di Jawa BaratPertumbuhan Perbankan Syariah di Jawa Barat


Oleh : Maya Romantin

Manusia sebagai makhluk ekonomi
“Dihalalkan bagimu hewan  buruan laut dan makanan (yang berasal) dari laut sebagai makanan yang lezat bagimu, dan bagi orang-orang yang dalam perjalanan,dan diharamkan atasmu (menangkap) hewan darat, selama kamu sedang ihram.Dan bertaqwalah kepada Allah yang  kepada-Nya kamu akan dikumpulkan( kembali)” (QS.Al-Maidah : 96)

 
Sebagai makhluk ekonomi (homo economicus), manusia senantiasa berusaha untuk memenuhi segala kebutuhan demi kelangsungan hidupnya.Manusia membutuhkan makan, minum, pakaian, tempat tinggal, dll.Sehingga dalam hal ini,setiap manusia senantiasa melakukan transaksi dengan manusia lainnya.
Sebelum adanya uang, manusia melakukan sistem barter dengan manusia lain dalam wujud memenuhi kebutuhan hidup.Namun nyatanya sistem ini terkadang menyulitkan menemukan orang yang cocok untuk bertukar jenis barang dengan  yang dibutuhkan.Hingga tercetuskan uang sebagai alternative terbaik hingga saat ini sebagai alat transaksi dalam pemenuhan ekonomi.Ternyata setelah adanya uangpun, manusia masih menemukan kendala dalam penyaluran dan penetapan nilai mata uangnya,Sehingga dibutuhkan lembaga keuangan yang mengatur arus lalu lintas keuangan, seperti Bank.
Peranan lembaga keuangan
Pada awal didirikannya, Bank berfungsi untuk menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit atau simpanan-simpanan lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak.Namun system bunga yang berkembang dalam tubuh Bank konvensional menimbulkan banyak masalah. Hal ini sangat bertolak belakang dengan tujuan awalnya untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat banyak, pada kenyataannya keuntungan dari bunga hanya dirasakan oleh oang-orang besar yang terlibat di dalamnya sedangkan rakyat kecil semakin menderita menanggung besarnya bunga yang harus dibayar atas pinjamannya kepada bank.
“Orang kaya semakin kaya, orang miskin semakin miskin”
Bank syariah sebagai solusi
 Bank Islam (Islamic Bank) adalah bank yang pengoperasiannya disesuaikan dengan prinsip syariat Islam. Saat ini banyak istilah yang diberikan untuk menyebut entitas Bank Islam selain istilah Bank Islam itu sendiri, yakni Bank Tanpa Bunga (Interest-Free Bank), Bank Tanpa Riba (Lariba Bank), dan Bank Syari’ah (Shari’a Bank).
“Wahai orang-orang yang beriman ! janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertaqwalah kamu kepada Allah agar kamu beruntung.Dan peliharalah dirimu dari api neraka, yang disediakan bagiorang-orang kafir.Dan taatilah Allah dan Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat.” (QS.Ali Imran : 130-132)
Masih ingatkah kita dengan kasus bank century?
Masihkah kita akan terbelenggu dalam lingkaran riba yang sudah jelas haramnya? Dimana janji Bank yang katanya mampu menyejahterakan rakyat banyak? Apakah pemberian bonus besar-besaran adalah solusi, sementara banyak rakyat yang menanggung risiko dan usaha kecil menengah banyak yang bangkrut karena tak mampu melunasi pinjaman dengan bunga yang membengkak? Ini yang namanya adil?  
Kini bank syariah adalah solusi terbaik untuk menata kehidupan ekonomi ini.Perbedaan pokoknya terletak dalam jenis keuntungan yang diambil bank dari transaksi-transaksi yang dilakukannya. Bila bank konvensional mendasarkan keuntungannya dari pengambilan bunga, maka Bank Syariah dari apa yang disebut sebagai imbalan, baik berupa jasa (fee-base income) maupun mark-up atau profit margin, serta bagi hasil (loss and profit sharing).

Adapun keunggulan Bank syariah yang belum diketahui banyak orang diantaranya adalah fasilitas yang sama dengan Bank konvensional, manajemen financial yang lebih aman, nasabah berkontribusi langsung memperkuat Bank syariah karena Bank  memberikan nisbah (“bunga” simpanan) berdasarkan perkembangan finansial perusahaan, membantu orang butuh dizakati karena bank syariah mengeluarkan  2,5% dari keuntungan tahunannya untuk dizakatkan, dan 100% halal tanpa riba serta digunakan untuk aktivitas yang halal pula.

Perkembangan bank syariah di jawa barat
Jumat, 02/12/2011 - 03:49 ((bisnis-jabar.com)
BANDUNG, (PRLM).- Sempat melambat pada pertengahan tahun, perbankan syariah Jawa Barat kembali melaju pesat pada triwulan III 2011. Pertumbuhan ini salah satunya ditandai dengan pembukaan jaringan baru perbankan syariah.
“Setiap tahun minimal ada 15 kantor cabang pembantu baru yang berdiri di Jawa Barat. Tahun 2010 15 kantor, tahun 2011 23 kantor. Kemungkinannya tahun depan akan meningkat lagi,” kata Pimpinan Bank Indonesia Bandung, Lucky Fathul Aziz Hadibrata, di sela pembukaan “Property and Housing Finance 2011” di Bandung Electronic (BE) Mall Bandung, Kamis (1/12). Acara yang digagas HU Galamedia tersebut melibatkan sejumlah pengembang properti, kalangan perbankan, serta sejumlah penyedia produk berkaitan dengan properti.
Mengenai perbankan syariah, Lucky mengatakan, dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah Jawa Barat pada triwulan III 2011 mencapai Rp 11 triliun, dengan pertumbuhan 39,41 persen (yoy), pembiayaan sebesar Rp 10,7 triliun dengan pertumbuhan 58,87 persen (yoy). Angka financing to deposit ratio (FDR) perbankan syariah juga sudah menunjukkan perkembangan positif. “FDR di seluruh Indonesia masih di atas 100 persen, tapi di Jabar sudah 97,69 persen,” kata Lucky.
Perkembangan ini terbilang menggembirakan. Pasalnya, pada awal hingga pertengahan tahun 2011, pertumbuhan perbankan syariah di Jawa Barat sempat melambat. Sejak Januari hingga Juni 2011, pertumbuhan pembiayaan perbankan syariah Jawa Barat baru sebesar 11,93 persen. Angka itu lebih rendah dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, dengan pertumbuhan 47,94 persen. Sementara pendanaan hanya tumbuh sebesar 1,71 persen, lebih rendah dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 49,57 persen.
Sejumlah upaya akselerasi yang ditempuh sejak pertengahan 2011 dinilai cukup efektif. Dia mencontohkan, seluruh karyawan BI, teridiri dari 428 orang diwajibkan memiliki rekening di perbankan syariah. Kemudian di sisi lain, inovasi produk perbankan syariah juga dinilai sudah mampu menarik calon nasabah. Produk yang ditawarkan beragam, disesuaikan dengan kebutuhan pasar, mulai dari gadai emas hingga fasilitas kartu debit yang bisa digunakan di seluruh dunia. “Itu menunjukkan produk syariah makin menarik,” katanya.
Lebih lanjut dia mengatakan, untuk mengakomodasi potensi perbankan syariah Jawa Barat, Lucky mewacanakan pembentukan “syariah banking institute”. Lembaga pendidikan ini akan berperan dalam mencetak sumber daya manusia yang nantinya akan berkecimpung dalam perekonomian, perbankan, hingga asuransi syariah.
Sementara itu, Ketua Asosiasi Perbankan Syariah Indonesia (Asbisindo) Jabar, Ade Salmon mengatakan, perbankan syariah pada dasarnya sama seperti bisnis yang lain. Segmen pasar yang digarap adalah apa yang dinilai potensial, termasuk pembiayaan properti. “Sama seperti bisnis lain, ketika ada peluang yang potensial, perbankan syariah akan masuk,” ujarnya
Analisis penurunan pertumbuhan bank syariah di jawa barat
Dari informasi di atas, kita bisa mengetahui bahwa telah banyak cabang Bank syariah didirikan, namun dari januari hingga juni 2011 pertumbuhan pembiayaaannya menurun dari tahun sebelumnya.Hal ini disebabkan karena kurangnya sosialisasi mengenai peranan dan fungsi perbankan syariah kepada masyarakat.Perlu adanya peran pemerintah untuk turun langsung ke lapangan mengajak dan menyadarkan masyarakat akan manfaat dari Bank syariah itu sendiri.Karena seperti yang kita ketahui, Bank konvensional telah banyak berkembang jauh sebelum perbankan syariah berdiri di Indonesia yang pertama yaitu Bank Muamalat pada tanggal 1 Nopember 1991.Sehingga masyarakat lebih familiar dengan bank konvensional.
Kesimpulan
Bank syariah berpotensi dapat mengubah tatanan kehidupan ekonomi menjadi lebih baik.Namun untuk mewujudkan system ekonomi tanpa bunga di Indonesia tidak mudah, perlu adanya peran besar masyarakat dan pemerintah.Untuk daerah jawa Barat khususnya, Bank syariah dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat di berbagai sektor riil.
“Hidup Berkah Tanpa Riba, kita wujudkan masyarakat madani yang sejahtera”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar