Senin, 03 Juni 2013

Karena Kau Lindungiku

Juara IV Cerpen Nasional Asuransi Syariah yang diselenggarakan MES dan Allianz



Pagi hari di halaman rumah bercat hijau tua, lelaki itu telah berkemas. Saat Amar membuka jendela kamar, Ayah telah berdiri di samping motor matik merah kesayangannya. Tas kerja Ia letakkan di atas jok motor dari kulit yang masih hitam mengkilat karena baru. Motor ini Ayah beli dari hasil jerih payahnya yang tak kenal lelah. Tak lama, dari dapur Ibu berlari memanggil suami yang dikasihinya.

“Yah, sarapan dulu. Ibu sudah buatkan nasi goreng dan teh madu hangat kesukaan Ayah” ucapnya dengan nafas terengah-engah kehabisan oksigen . Hari menjelang siang, Ibu tahu Ayah Amar harus segera tiba di kantor sebelum nasabah mulai berdatangan mencarinya. Namun Ibu Amar lebih takut, jika radang lambung kembali menyerang lelaki itu andai Ia tidak mengingatkannya untuk sarapan. Amar menyaksikan Ayahnya kembali ke dalam rumah, menyantap sepiring nasi goreng panas dengan tergesa-gesa.

“Lagi banyak kerjaan di kantor ya Yah, Amar perhatikan belakangan ini Ayah sibuk banget” tanya Amar. Ayah segera menelan makanannya, mereguk segelas teh madu hangat lalu menjawab pertanyaan putranya.

“Iya Nak, sekarang asuransi syariah mulai dilirik banyak orang, seminggu ini banyak nasabah lama maupun baru yang mendaftarkan jiwa dan hartanya melalui layanan asuransi syariah di kantor Ayah, salah satunya yang lagi booming itu produk Unit link sayang” terang Ayah, Beliau kemudian berdiri dari kursi makan, mengambil tas hitam di sampingnya . Amar masih duduk dalam kebingungan saat Ayah mengusap rambutnya dan izin pamit.

“Nanti Ayah jelaskan apa itu Unit link dan produk asuransi syariah lainnya yang harus kamu ketahui, oya jangan lupa sampaikan pesan Ayah pada teman sekelasmu, anaknya Pak Hendra.hhhhmmm siapa?”
“Khanna maksud Ayah?” jawab Amar dengan cepat
“Oh iya, kemarin sore Khanna datang ke kantor Ayah, bilang saja sama Khanna kalau mau tahu banyak tentang asuransi syariah, ajak Ia bertemu Ayah di rumah ya Mar”. Ucap Ayah, dasi hitam yang menggantung dilehernya tampak berantakan, Amar terlambat mengingatkan Ayah yang terburu-buru. Terbesit perasaan bahagia di hati Amar saat nama itu disebut. Namun, seketika terlintas pula di pikirannya seuntai pertanyaan tentang urusan Khanna dengan Ayahnya.
Tami, adik Amar yang paling kecil merengek dalam gendongan Ibu saat Ayah pergi. Amar segera menyusul ke halaman rumah di susul Hasan, adik pertamanya. Tak lama setelah motor Ayahnya berlalu, sebuah mobil sedan biru keluar dari gang di seberang rumah Amar. Sedan biru itu rupanya mendekat dan berhenti tepat di hadapan mereka. Saat kaca jendela di buka, sosok gadis SMA berwajah tirus melayangkan senyum dengan sapanya yang ramah. Amar salah tingkah.
“Hei Mar, kamu masih di rumah rupanya, berangkat bareng yuk?” ajak Khanna. Bagai mendapat durian runtuh , hati Amar senang bukan main. Siapa juga yang gak ge-er disapa dan diajak berangkat bareng seorang gadis cantik, baik dan pintar seperti Khanna, gumam Amar. Hampir saja Amar menjawab “iya”, segera Ibu Amar menyikut pinggangnya pelan, Amar terpingkal dan keluar kata “uuhh” dari mulutnya. Khanna kaget dengan ekspresi Amar, di samping Khanna duduk seorang lelaki paruh baya dengan wajah kurang sedap, Ayah Khanna. Amar segera paham dengan isyarat Ibu, dengan sangat halus Ia menolak ajakan gadis itu. Amar paham, namun tergores rasa perih saat sedan biru itu menghilang dari pandangannya.
“Malu Mar sama Bos Hendra” ucap Ibu mengusik lamunan Amar. Amar tersenyum datar.
“Iya Ibu, Amar ngerti,. Pasti ibu malu kan, kalau anaknya yang biasa bawa sepeda ini jika harus numpang di mobil mewahnya Khanna.. hehehe” ledek Amar. Ibu pun membalas ledekan Amar dengan cubitan kecil di pipi anak sulungnya. Hasan dan Tami ikut tertawa melihatnya kakaknya mengerang kesakitan.
Pukul 07.00 WIB
Di parkiran sekolah, Amar melihat Khanna sedang berdiri di depan madding sekolahnya. Beberapa lembar kertas warna ia tempel di sana. Amar mendekat, membaca informasi yang dibawa Khanna.
“Khanna, kamu dapat pamflet ini darimana?” tanya Amar mengagetkan Khanna, Amar membaca selembaran produk asuransi syariah di tangan Khanna. Khanna membalikkan badan segera.
“Eh .. Amar” ucapnya spontan. “Ak.. aakuu dapat dari kantor ayah kamu Mar” jawabnya terbata. Mulut Amar membentuk bulatan “o”. Lalu keduanya terlibat dalam perbincangan singkat tentang hal yang sedang diminati Khanna. Amar senang saat tahu bahwa gadis yang diam-diam ia kagumi rupanya mulai berubah kiblat ke syariah.
“Khanna , ayahku mengajakmu mengobrol tentang hal ini di rumah kecil kami sore nanti. Kamu ada waktu kan?” ucap Amar. Khanna mengiyakan.
xxx
Perbincangan dengan Amar dan ayahnya sore itu, menyisakan kesan berharga bagiku.. Keraguan yang sempat membatasi, rasanya mulai terkikis. Keluarga kecil Amar mengajarkan arti kesederhanaan, tanggung jawab dan penuh perhitungan di masa depan. Ingin sesegera mungkin aku mengenalkan keluarga pada sistem keuangan syariah. Memang, Papa Mama bukanlah orang awam dalam bisnis dan investasi, mereka tahu secara pasti resiko andai salah dalam berinvestasi. Walaupun aku bersekolah di SMK Perbankan Syariah, tak berarti kehidupan ekonomi kami sejalan dengan syariah. Hari belum larut malam, di ruang depan ku dengar Papa, Mama dan Kak Kirana tengah asyik bercengkrama. Kuputuskan inilah saat yang tepat untuk menyampaikannya isi hati.
“Pa, beliin aku handphone baru dong, malu nih sama temen-temen. Aku doang tahu yang handphonenya paling ga up to date” ujar Kak Kirana merajuk manja. Papa yang sedang asyik membaca kolom bisnis koran langganannya tidak tergubris.
“Pa, beliin ya Pa” Kak Kirana menggoncang-goncang Papa layaknya anak TK yang minta dibeliin boneka Barbie. Papa menaruh korannya di atas meja sudut di sampingku. “Malu ah nih sama Khanna Kak, masa udah mahasiswa gini masih manja sih” ledek Papa, aku dan mama turut tersenyum.
“Udah beliin aja Pa, paling berapa sih harga handphone” dukung Mama. Kak Kirana makin senang ada yang bela.
“Papa mau kredit properti baru di daerah Puncak Bogor, buat tambahan tabungan kita. Daripada uangnya buat beli handphone Kirana, mendingan buat nambahin uang DP. Iya gak Khanna ? ” Papa melirikku. Seperti biasa, untuk urusan bisnis Papa sering meminta pendapatku. Ya, walaupun akhirnya kadang tak membuahkan hasil.
“Loh Papa mau beli rumah lagi, buat apa Pa ?.Kan rumah kita ini udah cukup besar, menurut Khanna ga usah deh Pa, nambahin pengeluaran aja ”
Papa mengerutkan dahinya yang mulai dipenuhi lipatan-lipatan. “Ya kan Papa belinya kredit Dik, ga bakal berasa kok cicilannya” tutur Papa.
“Menurut Khanna, daripada uangnya buat nyicil rumah baru, mending Papa pakai buat asuransiin rumah kita ini Pa. Selain buat jaga-jaga, di asuransi syariah kita sekalian kita bantu orang lain”
“Bantu orang lain gimana Dik ?”
“Di asuransi syariah itu ada dana yang disisihkan buat dana kebajikan, namanya dana tabarru. Dana ini yang nantinya akan dikeluarkan jika salah satu dari nasabah ada yang mengajukan klaim. Manfaatnya besar Pa, prinsip ini mengajari kita untuk saling melindungi dan menolong sesama peserta asuransi” ucapku.
“Pa, kalau Papa tetap mau beli properti, aku beli handphone barunya pakai kartu kredit Papa ya” Kak Kirana masih tetap dengan kemauannya. Papa sebenarnya keberatan, namun Ia tahu dengan watak keras putri sulungnya. Belum Papa menjawab, Kak Kirana bergegas ke kamarnya dengan wajah sumringah.
“Ah kamu Dik. Gak usah deh kayanya asuransiin rumah ini, Papa akan tetap beli rumah baru, kalau memang nanti terjadi apa-apa dengan rumah ini. Kan masih ada rumah lain, lagipula peluang bisnisnya lebih besar. Puncak gitu Dik, bisa kita sewakan nantinya” Aku mematung. Mama sibuk dengan urusannya sendiri, Ia tak banyak tanya ataupun komentar dengan keputusan Papa, selama apa yang dkerjakan Papa mendatangkan profit.
“Ayolah Pa, kali ini aja dengar pendapat Khanna. Kalau Papa kredit rumah baru, apalagi dengan bunga yang lumayan tinggi gini aku khawatir kelak Papa gak kuat bayar cicilannya. Lagipula sekarang aku udah dapat banyak ilmu tentang manfaat asuransi syariah dari Amar dan Ayahnya” tungkasku.
Mama tersedak saat aku berkata demikian. Secangkir teh manis hangat di tangannya, hampir saja tumpah.
“Maksud kamu Suryadi yang kerja sebagai teller di kantor asuransi syariah itu?” wajah Papa berubah tidak sedap. Aku mengangguk. “Sudah jangan sering-sering ngobrol dengannya, nanti otakmu dicuci lagi Khanna” ujar Papa setengah marah.
“Yaudah kalau Papa bersikeras, aku sih cuma mengingatkan dan menyampaikan ilmu yang kudapat. Tapi bolehkan aku minta uang jajanku dinaikin dua puluh persen dari biasanya”
“Buat apa?” ucap Papa dan Mama serentak.
“Buat bayar les bahasa Inggris” jawabku berbohong. Aku segera kembali ke kamar dengan perasaan campur aduk.
xxx
Ayah Amar pulang dari kantornya malam itu. Ia heran melihat seisi rumahnya sepi. Saat melirik jam dinding yang terpancang lurus di hadapnya, waktu menunjukan pukul sebelas malam. Di periksanya satu persatu kamar, Istri dan kedua anaknya yang masih kecil, Hasan dan Tami sudah terlelap. Saat tiba di kamar depan, pintu kamar terbuka sedikit. Amar sedang sibuk dengan urusannya. Ayah penasaran dengan apa yang sedang dikerjakan anak lelakinya. Amar terkaget saat seseorang masuk ke kamarnya. Ayah tersenyum.
“Kamu belum tidur Nak ?”. Amar segera bangkit, berusaha menutupi sesuatu yang dipegangnya dengan selimut berwarna coklat. Namun terlambat, benda itu jatuh ke lantai, tepat di hadapan mata ayah. Hati Amar tak karuan. Benda itu sekarang ada di tangan Ayah. Dengan santainya Ayah melepas jas yang ia kenakan, menaruhnya begitu saja di kasur Amar.
“Ini foto gadis yang suka Mar?” Ayah tersenyum sambil mengusap rambut putra yang dikasihinya. Amar tersipu malu.
“Ayah gak marah kan, aku menyimpan foto Khanna?”
“Ngapain marah, kamu sudah remaja ini. Mencintai dan dicintai adalah hak semua insan Mar” ujar Ayah sederhana. Kata-kata itu seperti stimulun bagi hati Amar yang dihinggapi ragu dan malu selama ini. Ayah sepertinya sudah menebak jika anak lelakinya ini tengah jatuh hati. Sekelibat bayangan Khanna bermunculan di benak Amar. Tak lama, raut wajah Amar membiru.
“Tapi yah, status keluarga kita dengan keluarga Khanna jauh berbeda. Kayanya Amar gak pantes deh berharap banyak. Lagipula belum tentu Khanna suka sama Amar”
Ayah menarik nafas panjang
“Siapa bilang, kamu belum mencobanya kan? Menurut ayah, Khanna cocok untuk kamu Mar”. Lagi-lagi, ayah membuat hati Amar mengembang.
“Ah, gak mungkin Yah. Darimana Ayah tahu, Khanna cocok untukku?’
“Khanna itu berbeda dengan orang tuanya. Ia memiliki prinsip dan perhatian yang sama dengan keluarga kita. Kamu tahu gak? Tadi siang Khanna mendaftarkan asuransi mobilnya di kantor Ayah”. Ayah menaikkan alisnya tanda Ia tidak berbohong. Amar senang mendengarnya. Lagi, gadis itu membuatnya semakin kagum.
“Teruslah berusaha Amar. Tunjukkan biarpun keluarga kita biasa saja, tapi ada Allah dan ada asuransi syariah yang melindungi kita. Jadilah orang yang senang memudahkan kesulitan orang lain, niscaya Allah akan memudahkan hidup kita. Ayah percaya kamu bisa, Khanna adalah gadis yang baik. Jangan biarkan ia lepas ke jurang kesombongan yang dimiliki orang tuanya”. Pungkas Ayah. Amar ingat betul bagaimana perlakuan orang tua Khanna saat ayahnya dulu masih bekerja sebagai sopir di keluarga itu ketika Ia dan Khanna masih kecil. Ayah mengundurkan diri dari pekerjaannya karena tak tahan menyaksikan kesombongan dan ambisius Pak Hendra akan harta yang dimilikinya. Kini Amar bertekad untuk selalu berusaha menyemangati dan melindungi Khanna.
Xxx

Malam ini mataku enggan terpejam. Kuputuskan untuk membuat segelas susu coklat hangat, mungkin bisa memberikan efek ngantuk, pikirku. Di luar jendela, hujan terus membasahi. Dari tangga lantai dua rumahku, sayup sayap suara orang mengobrol di ruang tamu ku dengar. Aku mendekat, benar saja Papa Mama masih sibuk dengan urusannya, namun ada sesuatu yang tak biasa, dua lelaki berjas hitam dan bertubuh kekar turut di sana. Hatiku mulai bertanya, “ada apa gerangan jam segini mereka masih dirumahku?”
Samar yang kudengar obrolan mereka di bawah tangga dekat dapur. Terlintas aku dengar, salah satu dari lelaki asing itu menyebut hal tentang kredit rumah di Puncak. Yah, aku tahu. Beberapa bulan lalu, Papa tetap memilih keputusannya. Walau dengan berat dan cemas, aku merelakan Papa menjual sebagian sahamnya demi rumah yang katanya dipakai untuk bisnis. Dugaanku sementara, mereka adalah debt collector yang menagih hutang pada Papa. Beberapa kalimat yang sepertinya sebuah ancaman Ia lontarkan. Hatiku semakin waswas, saat hendak bergegas ke sumber suara. Seseorang menepuk pundakku. “Aww” aku terperanjat, dengan tangkas Kak Kirana membekap mulutku.
“Shuuuttttt… jangan berisik” Kak Kirana melepaskan dekapan tangannya. Aku terengah-engah dibuatnya.”Kamu nguping ya? Ayo balik ke kamar , ini urusan orang tua. Kalau gak aku bilang Mama loh” lanjutnya.
Aku masih terbengong di hadapan Kak Kirana. Rasa penasaran dengan apa yang sedang dibicarakan kedua orangtuaku segera tertahan oleh ancamannya. Aku menurut saja mencari aman, kembali ke kamar dengan serbuan tanda tanya di kepala.
Selepas bel tanda berakhirnya pelajaran berbunyi, aku langsung menuju gerbang sekolah. Menunggu seseorang dengan sepedanya melintas di hadapanku. Tak lama aku menunggu, sosok yang ku nanti akhirnya datang juga.
“Amar..” teriakku spontan, saat sepeda merah itu keluar parkiran. Amar yang mendengar teriakkanku langsung mempercepat laju sepedanya.
“ Ada apa Khanna? Jemputanmu belum datang?”
Aku menggeleng “ Tidak Amar, hari ini aku memang minta tidak dijemput”
“Terus ngapain kamu di sini, jangan bilang kamu minta aku anterin…hehehe?” ucapnya bercanda. Aku tersipu, ini bukan pertama kalinya Amar berkata demikian.
“Hmmm, Amar aku ingin bertemu ayahmu. Ada sesuatu yang ingin aku tanyakan, bisa kan kamu antar aku ke kantornya?”
Amar tersenyum, walaupun wajahnya tampak bingung. Tanpa banyak tanya, ia bersedia menemaniku . Di perjalanan aku ceritakan kepada Amar tentang peristiwa semalam. Amar tidak banyak komentar, hanya memintaku agar tetap berpositif thinking. Tiba di kantor Ayah Amar, rupanya usaha kami terhalang. Mbak Rani, yang berjaga di front office mengatakan Ayah Amar sedang menemui klien di luar kantor. Aku sedikit kecewa, namun Amar segera menghiburku dan mengajak menunggu ayahnya di rumah.
Hari menjelang malam, Ayah amar tak kunjung pulang. Sementara berapa kali panggilan tak terjawab terpampang di layar handphoneku. Aku tahu, orang rumah pasti cemas. Maka aku putuskan untuk segera pulang dan kembali menemui Ayah Amar besok saja.
xxx
Ibu Amar mulai cemas, sudah larut malam suaminya tak kunjung pulang ataupun memberi kabar. Amar dan Hasan secara bergantian menghubungi Ayah, namun selalu gagal. Jawaban “tuuttt” yang mereka terima. Amar mencoba menenangkan hati Ibu “ Mungkin Ayah terjebak hujan di rumah kliennya, terus handphonenya lowbatt Bu “ ucap Amar. Hasan turut mengiyakan.
Selang satu jam, sebuah panggilan dari nomor baru masuk ke handphone Amar. Dengan semangat Ibu mengangkatnya, “Mungkin Ayah memberi kabar tidak akan pulang malam ini?” ucap Ibu kepada Amar dan Hasan. Namun berbeda dari harapan, wajah ibu pucat seketika. Ia membekap mulutnya yang hampir pecah karena tangis. Amar mencoba merebut telepon genggam dengan tangannya saat Ibu hampir menjatuhkan diri ke sofa. Namun terlambat, seseorang di seberang sana telah memutuskan sambungan.
“Ada apa Bu , kenapa dengan Ayah?” tanya Amar sambil mengguncang-guncangkan tubuh Ibu dibantu Hasan yang masih polos. Ibu segera menyeka cairan bening yang menetes di sudut bola matanya. Ia tak banyak berkata, hanya meminta Hasan tetap tinggal di rumah menjaga Tami. Amar menemani Ibu berkemas menuju tempat yang belum diketahui.
Sepanjang jalan Amar gelisah, diperhatikannya bibir Ibu tak henti berucap. Lirih, puji-pujian dan do’a yang Amar dengar. Amar heran saat Ibu meminta supir angkot berhenti di depan sebuah rumah sakit. “Kenapa kita berhenti di sini Bu, siapa memangnya yang sakit? ” tanya Amar sambil terus berjalan membuntuti Ibu. Di samping pos satpam, sebuah motor matik merah tergeletak begitu saja. Memprihatinkan keadaannya, ringsek ! garis polisi melilit badan motor. Amar sekilas melihat sebuah gantungan kunci boneka danbo menggantung di setang motor.”Astaghfirullah..” Lirih Amar, jantungnya berdegup kencang, ia hapal betul siapa pemilik gantungan kunci itu, hadiah itu Ia berikan di saat Tami mendapat juara balap sepeda. Ibu mempercepat langkahnya, memasuki lorong-lorong rumah sakit yang mulai sepi.
Dari kejauhan sekelompok orang berpakaian rapi berdiri di depan ruang gawat darurat. Salah satunya Mbak Rani, wanita yang ditemui Amar siang tadi. Tangis Ibu seketika pecah, saat Mbak Rani memeluknya erat. Keduanya berangkulan dalam tangis yang semakin hebat., diikuti rekan lainnya yang mencoba berempati terhadap Ibu dan Amar.
“Yang tabah ya Bu. Semoga segala amal ibadah Bapak diterima di sisi Allah SWT” ucap salah satu diantara mereka. Amar terpukul bukan main, sebuah kenyataan pahit Ia hadapi di saat yang tak terduga. Ayah pergi, pulang ke Rahmatullah. Tangispun tak dapat dibendung, Amar meronta dan berteriak sejadi mungkin. Tidak mungkin rasanya lelaki yang pagi tadi mengantarnya mendaftar ke universitas sudah terbujur tanpa nyawa. Tidak, amar ingin protes. Namun terlambat, Tuhan telah menakdirkan jalan terbaik.
“Allah… secepat inikah aku menjadi yatim ? ” erang Amar dalam tangisnya.
Berita duka itu segera sampai ditelinga Khanna melalui Pak Ilham, wali kelas mereka.. Khanna shock berat. Sosok yang ingin Ia temui hari itu telah tiada. Seseorang yang sudah Ia anggap seperti ayah sendiri kini tinggallah nama. Tak banyak yang dapat Khanna lakukan selain ucapan belasungkawa. Saat ditemuinya, Amar masih dirundung duka. Khanna tidak berani banyak bicara, ia putuskan memberikan Amar waktu untuk menenangkan diri.
Beberapa hari setelah kepergian ayahnya, Amar menjelma menjadi sosok yang pendiam. Rangkaian ujian akhir sekolah usai mereka lalui, tinggal menanti kelulusan. Ibu Amar yang sehari-hari bekerja sebagai ibu rumah tangga dan penjahit pesanan, kini harus menjajal pekerjaan lain sebagai penjual nasi uduk untuk menopang hidup. Amar paham betul apa yang harus Ia lakukan untuk single parent dengan tiga orang anak ini. Tak jarang, Amar meninggalkan bangku sekolah selama menunggu kelulusan untuk membantu ibunya berjualan.
xxx
Duka tak hanya menyelimuti keluarga Amar, Pun aku. Rasa kehilangan mulai menghinggapi, Amar sosok yang buatku nyaman kini sulit ditemui, padahal banyak hal yang ingin aku ditanyakan padanya. Beberapa hari setelah sosok dua orang debtcollector itu datang ke rumah, Papa berubah menjadi sosok yang pendiam dan sibuk keluar rumah. Sesekali ia menjadi pemarah saat menemui hal-hal kecil yang tak lazim di rumah. Mama dan Kak kirana yang mulai membangkang pun membuat Papa semakin geram, pertengkaran kecil antara ketiganya mulai sering terdengar. Akupun sempat kena semprot saat meminta uang bayaran akhir sekolah pada Papa.
“Papa sedang repot Khanna, sana minta sama mamamu” ucapnya dengan suara tinggi. Aku terperangah dengan ekspresi yang tak biasa ini. Namun coba aku renungkan, mungkin Papa sedang ada masalah.
Dari mulut Kak Kirana, aku tahu. Papa sedang dikejar tagihan kartu kredit yang membengkak. Beberapa perabotan berharga di rumah perlahan mulai raib. Mama mulai memangkas pengeluaran sehari-hari. Sungguh, rasanya aku ingin menjerit. Akar-akar kebangkutan mulai bermunculan ke permukaan. Petuah mendiang Ayahnya Amar seperti akan segera terjadi, bumi berputar. Aku sudah tak sabar ingin menemui Amar. Ku putuskan pagi ini untuk menemuinya. Saat hendak berangkat, dari halaman rumah Bibi berlari ke arahku, membawa sebuah amplop berwarna hijau soft tanpa inisial pengirimnya.
Dari Amar, saat kertas itu ku buka.
“Khanna, aku dengar dari teman-teman kamu sering menanyakan aku. Benarkah? Jika iya, ada apa Khanna?. Hmm.. gimana dengan keluargamu? Maaf ya jika aku tidak tahu banyak tentang masalahmu. Khanna, sebelumnya maaf jika aku mulai jarang ditemui. Aku sedang mengurusi banyak hal dengan keluargaku. Khanna, aku bukannya tidak ingin membantumu, hanya saja aku sedang butuh sedikit waktu untuk merapat ke tepi. Mungkin karena masih shock kehilangan Ayah.
Khanna, sekarang aku harus sudah mulai bekerja. Kerja apa saja yang penting bisa memenuhi kebutuhan keluarga. Dan sepertinya aku harus berfikir ulang untuk melanjutkan kuliah. Khanna . suatu hari aku akan menemuimu lagi jika keadaanku mulai membaik. Khanna kamu gadis yang hebat, aku yakin kamu dapat mengatasi masalahmu sendiri. Khanna, jika suatu saat kamu merasa sendiri. Ingatlah Allah, Dia selalu ada di dekatmu. Lebih dekat dari urat nadimu sekalipun. Selamat sukses Khanna, semoga Allah merestui perjalananmu mencapai impian…amin “
Surat dari Amar sangat memukulku. Antara kecewa dan sedih aku menerimanya. Menghilangnya Amar, bukan karena ia tak peduli lagi denganku. Masalah yang dihadapinya mungkin lebih berat dariku. Ya, Amar. Mulai saat ini, aku akan coba berusaha menyelesaikan masalahku sendiri. Seperti yang kau bilang, aku bisa !!!
Waktu terus berlalu, hari kelulusanpun segera menjelang. Orang-orang mulai sibuk mendaftarkan diri ke perguruan tinggi. Aku ??? Tak ada nyali rasanya.
“Pa, Khanna mau kuliah” Kata itu terus berkecamuk di hati namun tak pernah sanggup aku ungkapkan. Kebobrokan di rumahku kian menjadi, keluarga kami mulai akrab dengan para debtcollector. Investasi berbau riba yang Papa Mama banggakan selama ini, mulai mengeruk satu per satu harta yang dengan susah payah kami kumpulkan. Satu per satu mobil dan saham Papa menghilang, dikeruk para borjuis yang tak mengenal kata “simpati”.
Papa mencoba menjelaskan alasan kebangkrutan kami, lagi. Papa pontang-panting mencari pinjaman uang, prinsipnya keras supaya rumah ini tetap milik kami. Si Biru kini satu-satunya kendaraan yang tersisa.
Ujian rupanya tak cukup sampai di sini. Kebakaran hebat menimpa rumah kami siang itu di saat semua penghuni rumah berpencar menjalani rutinitas. Korsleting listrik menyebabkan rumah kami begitu empuk jadi sasaran si jago merah. Semua hilang, segalanya lenyap. Rumah, harta yang tersisa ludes termasuk mobil pribadi hadiah ulang tahunku yang ke-17 turut hancur. Asaku hilang, mimpiku musnah. Tuhan.. aku hancur. Jerit batinku.
Papa tersedu-sedu menyaksikan rumah yang dipenuhi kepulan asap hitam. Ku dekap tubuhnya yang bercucuran peluh dan air mata.
“Pa, adakah barang berharga yang tersisa?” tanyaku. Papa menggeleng pasrah. Mama dan Kak Kirana bak wayang yang menunggu dimainkan dalang, diam mematung tanpa kata, hanya isakan tangisnya yang ku dengar tak henti.
Sekarang kami tinggal di sebuah kontrakan, lebih kecil dari rumah Amar. Hari-hari kami jalani seadanya. Aku tak boleh larut dalam kesedihan. Saat kalut, nama Amar kembali teringat.
Siang itu aku putuskan datang ke rumahnya. Rumah itu tampak begitu sepi, “ mungkin masih dalam suasana duka” pikirku. Ku ketuk pintu bercat coklat tua itu. Satu , dua hingga tiga kali tetap tidak ada jawaban. Seseorang di rumah sebelah segera menghampiri . Pak Rukiyan namanya, sahabat Ayah Amar yang sudah seperti keluarga sendiri.
Pak Rukiyan menyapaku dengan ramah
“Eh Mbak Khanna apa kabar? Ko jarang keliatan mbak, sibuk ya sekarang?”
Aku berusaha menjawabnya dengan ramah pula ” Iya pak, kabar baik. Ah enggak juga, saya cuma lagi ada beberapa urusan. Oya Pak, Amar dan keluarganya pada kemana ya? Ko rumahnya sepi”
Beliau memanggut “Loh Mbak Khanna gak tahu ya? Kan sekarang Mas Amar dan keluarganya kan sudah pindah ke kampung halaman di Solo sejak seminggu ayahnya meninggal”
“Apa?” aku tak percaya, Lagi. Aku terlambat mengambil kesempatan. Amar benar-benar pergi. Bertambah lagi asaku hilang. Akankah aku bertemu lagi dengannya. Lelaki yang diam-diam aku suka. Atau adakah kelak seseorang yang lebih baik darinya? Entahlah.
“Ammmaaaarrrr…kembalilah…aku gak mau kehilangan segalanya” tangisku pecah.
xxx
Oktober 2012 di Durham University. Empat tahun berlalu tanpa terasa, jari-jariku rasanya sangat pegal setiap hari berkutat dengan papan keyboard. Tugas akhirku harus segera selesai sebelum tahun baru datang, tekadku. Besok hari aku putuskan untuk jalan-jalan ke tempat wisata di London. Melepaskan penat sesaat. Tiba-tiba handphoneku berdering. Sebuah nama yang ku kenal. Mr. Andrew, dosen pembimbingku rupanya. Ia membawa kabar kurang sedap, tulisan yang kususun kurang akurat di beberapa tabel yang menunjukan data perkembangan asuransi syariah terkini di Indonesia yang menjadi fokus penelitianku, ujarnya. Rencana jalan-jalanku gagal. Esok pagi aku harus menghadap Mr.Andrew.
“ Data yang kamu sajikan tidak up to date Khanna, ini sudah lewat lima tahun yang lalu. Kamu harus mencari data yang terkini”.
Aku menghela nafas berat. Kemana aku harus mencari data itu, sementara jika harus pulang ke Indonesia tentu akan menghabiskan banyak biaya. Sementara waktu pengerjaan skripsi sebentar lagi. Seolah menebak apa yang sedang aku pikirkan. Mr.Andrew berkata padaku.
“Jika tidak bisa pulang ke Indonesia, kamu bisa dapatkan data itu dari perusahaan atau orang Indonesia yang bekerja di bidangnya. Kamu punya kontak nomornya?”
Aku menggeleng . Mr Andrew pun ikut berfikir sambil membaca tulisan terakhirku.
“Sudah bagus sih, hanya ada beberapa data yang kurang” lanjutnya. Ia lalu mengeluarkan beberapa buku telepon dari laci mejanya. Sekian menit aku menunggu, belum juga membuahkan hasil tampaknya. Di dekat kotak file di meja Mr. Andrew, sebuah buku dengan jilid hitam tergeletak di sana. Aku meminta izin membuka buku yang menarik perhatianku sejak awal masuk ruangan ini. Mr.Andrew mengiyakan.
“Bukkkkukk …..” buku itu gagal tiba ditanganku dengan sempurna. Mr.Andrew turut kaget saat buku itu jatuh dilantai. Dengan tergopoh aku dan Ia turun dari kursi membereskan file yang bersebaran dari buku itu.
“Maaf Mr, saya tidak bermaksud menjatuhkannya” aku gemetaran. Mr.Andrew tetap tersenyum. Diantara lembaran kertas file dan kartu nama yang terselip didalam buku hitam itu, Mr Andrew teringat sesuatu salah satu kartu nama berwarna biru dongker itu.
“Nah ini dia, ada seorang mahasiswa yang mendapat beasiswa kuliah dari kantor asuransi syariah di Indonesia. Mungkin kamu bisa bertanya kepadanya” Mr Andrew menyodorkan kartu nama itu ke tanganku.
Hatiku bergetar saat nama yang tertera di sana ialah nama seseorang yang aku kenal.
Amar Husein
Siapa gerangan pemilik kartu nama ini? Mungkinkah dia Amar yang ku kenal? Ahhh…. Rasanya tidak mungkin Amar ada di Durham juga, dia kembali ke kampungnya yang ku tahu. Namun tidak menutup kemungkinan juga, nama perusahaan yang tertera di kartu nama itu sama persis dengan kantor asuransi yang aku ikuti. Otakku penuh tanya. Nomor handphone yang tertera di sana tidak dapat dihubungi. Beruntunglah, emailnya masih aktif. Kami berkomunikasi melalui email, orang itu banyak membantuku. Dia mengirimi aku data-data dan nomor kontak yang sedang aku butuhkan. Tak sampai satu bulan, aku berhasil merevisi skripku.
Amar sedang menyelesaikan penelitiannya di kota lain saat aku membutuhkannya. Hari ini setelah dia kembali ke London, aku mengajaknya bertemu di kampus untuk mengucapkan terima kasih.
“Khanna” seorang lelaki bertubuh kekar dengan jaket merah memanggil namaku. Aku terperanjat seketika, oh inikah yang namanya Amar Husein. Batinku secara cepat menebaknya.
“Kamu Khanna kan?” ucapnya saat tiba di depan kelas. Aku mengangguk, ahhh… benar. Dialah pemilik nama Amar Husein itu. Putus asaku.
“Iya, maaf saya mengganggu waktumu. Bisa ngobrol dimana kita Amar?” ucapku.
Lelaki itu mengerutkan keningnya saat aku berkata demikian. Lalu tertawa terpingkal. Aku heran apa yang lucu dari perkataanku tadi.
“Loh kenapa kamu tertawa, memangnya ada yang lucu?” tanyaku sedikit kesal.
“Kamu bilang tadi apa? Amar kan? Hei aku bukan Amar. Aku Tito, teman Amar asal NTB. Kamu Khanna kan yang janjian bertemu Amar?” ucapnya. Alhamdulillah… syukurlah. Ternyata dugaanku salah.
“Trus mana Amar?”
“Dia sedang ada rapat dadakan dengan pemberi beasiswanya. Makanya dia menyuruhku menemui kamu selagi dia rapat, bentar ko”
Ohhh….. aku sedikit lega. Tito menemaniku mengobrol di taman.
Setengah jam berlalu, Amar tidak kunjung datang. Kuputuskan untuk kembali ke kelas mengambil berkas yang tertinggal. Di lorong berdesakan mahasiswa menuju depan ruang dosen untuk melihat pengumuman mahasiswa dengan judul skrip terbaik. Aku tercengang saat namaku tertera di urutan sepuluh besar.
Alhamdulillah ucapku khidmat. Aku masih tetap berdiri di hadapan madding hingga mahasiswa lain bubar, seseorang di belakang menyapaku.
“Selamat ya, prestasi yang luar biasa” ucapnya
Aku segera menyeka airmata yang jatuh karena haru, ku balikkan badan perlahan menoleh ke sumber suara. Seorang lelaki berbadan tegap berkulit bersih berdiri di hadapku dengan senyumnya yang khas. Jantungku dipacu kencang, antara sadar dan tidak, wajahnya mengingatkan aku pada kenangan empat tahun lalu.
“Amar “ ucapku lirih. Desakan air mata kian menjadi. “Amar Husein ?” jari telunjukku angkat bicara. Ia mengangguk dan tersenyum. Dengan tangkas Amar menyodorkan sebuah tissue dari ranselnya.
“Maha Besar Allah, atas kuasa-Nya Ia mempertemukan kita kembali Khanna . Di tempat yang tak pernah terduga pula” Ucapnya. Mata Amar berbicara, kepingan cairan bening menyudut di kedua bola matanya.
Pertemuan dengannya tak kusiakan. Lagi, Amar datang sebagai pahlawan untukku. Amar bercerita banyak hal tentang hidupnya selama empat tahun terakhir.
“Sejak Ayah meninggal, aku tak tega membiarkan Ibu larut dalam kesedihan dan kekhawatiran akan nafkah kami. Maka aku putuskan untuk tidak melanjutkan kuliah. Ayah adalah sosok yang bertanggung jawab. Ia pergi tak sekedar meninggalkan duka bagi kami. Beberapa orang dari kantor ayah datang setelah kepergiannya. Aku diminta menandatangi warisan yang diberi ayah. Rupanya ayah berivestasi di unit link asuransi syariah, aku sangat terharu atas bantuan Allah melalui mereka” Amar tak sanggup menahan air matanya. “ Allah menunjukan cintanya melalui ayah dan tangan-tangan asuransi syariah. Aku sanggup kembali berdiri dengan investasi yang ditinggalkan ayah. Selain itu, aku ditunjuk atasan ayah untuk membantu pekerjaan asuransi syariah cabang solo, awalnya hanya sebagai karyawan biasa tapi lama kelamaan aku diangkat dibagian keuangannya. Dan mendapat beasiswa kuliah di Durham Khanna. Itulah ceritaku. Bagaimana denganmu?”
Aku terkagum dengan kegigihan dan kebesaran hati Amar. Juga kepada ayahnya. Sebuah keajaiban, bagaimana bisa empat tahun lamanya kami berada di kampus yang sama, namun tak saling tahu.
“Kapitalisme telah mengeruk harta keluarga kami, Papa terlilit hutang tagihan kartu kredit. Kami bangkrut, luka itu semakin dalam saat kebakaran menimpa rumah kami. Harta satu-satunya termasuk mobilku ludes dilalap si jago merah. Kami tidak punya asuransi rumah. Untunglah aku mengikuti saran ayahmu mengasuransikan mobilku. Dengan tambahan uang jajan dari Papa, aku sanggup mengangsur polis asuransi setiap bulannya. Setidaknya dengan dana tabarru dari asuransi syariah, uang itu kami gunakan untuk menopang kebutuhan hidup hingga beberapa bulan. Aku bertekad agar tetap bisa kuliah, beruntunglah ada seleksi beasiswa di Durham, aku terpilih sebagai salah satu penerima beasiswa itu. Dengan bantuan itu pula, semangat keluargaku bangkit kembali. Dengan izin-Nya, aku bisa bertemu lagi denganmu Amar”. Aku dan Amar larut dalam keharuan. Sebuah ketakjuban atas kebesaran-Nya, kami rasakan.
“Khanna, jalan cerita hidup kita hampir sama ya…” ucap Amar. “Khanna, Bolehkah aku bermimpi dapat melindungi dan menyayangimu selamanya” lanjut Amar. Menolehku.
“Seperti asuransi syariah?” tanyaku. Amar mengangguk. Kami tersenyum.
“Kenapa tidak kau wujudkan saja mimpimu itu menjadi kenyataan Amar” Jawabku sederhana. Amar mengerti. Sebuah babak kehidupan baru dimulai. Dengan tekad dan keyakinan yang sama. Semoga menjadi pernikahan yang diberkahi. Amin..
xxx
Pagi hari di Solo.
“Andai saja Ayah tidak mengenalkanku pada asuransi syariah, aku tidak tahu jadinya seperti apa hidupku sekarang. Pun dirimu Khanna, berterimakasihlah pada Allah yang telah mengingatkan kita untuk selalu bersiaga dan saling melindungi ” Ucap Amar, pendamping hidupku kini. Aku tersenyum bangga penuh syukur. Dalam hatiku berdo’a, semoga semakin banyak orang yang merasakan manfaat investasi di asuransi syariah. Terima kasih.
Sekian
profil penulis

nama : Maya Romantin
tempat tgl lahir : Sumedang, 4 juni 1993
alamat : Jln.H Muhasan II Rt 03/02 Perum GPA No.18 Meryung, limo, Depok
motto hidup : i'm different, still different and will different from another do

Tidak ada komentar:

Posting Komentar